Pendapat sains usang membuat orang percaya bahwa pembuahan upaya pemulihan dari sperma terkuat yang menang mengalahkan sperma lain dalam perlombaan renang menuju ovum. Perempuan lebih tepatnya hanya sebagai objek pasif.
Mereka yang percaya teori fertilitas tersebut digolongkan sebagai kelompok preformationist . Kelompok ini meyakini setiap spermatozoa berisi miniatur manusia ( homunculus ). Sementara sel telur hanyalah tempat sperma bertumbuh. Serupa taklid buta, beratus-ratus tahun mereka menutup mata pada kelompok epigenesist yang pandangannya bertentangan dengan homunculus sperma.
Berbagai studi pada 1700-an semestinya sudah mematahkan keyakinan preformationist . Fakta membuktikan diri pada perempuan juga berkontribusi membentuk individu baru. Agar terjadi pembuahan, diperlukan minimal satu sperma untuk bertemu ovum, dan sistem reproduksi perempuan lah yang menyeleksinya.
“Sistem perempuan menyisihkan sperma dengan kelainan fisik agar tidak banyak sperma lolos ke saluran telur," demikian penjelasan rinci dari Robert Martin, penulis buku How We Do It: The Evolution and Future of Human Reproduction (2013), di laman Aeon membantah mitos keperkasaan sperma.
Ternyata butuh waktu lebih dari 300 tahun bagi manusia untuk memahami bagaimana manusia itu sendiri tercipta, mitos-mitos yang berkembang di masyarakat terkadang sudah menjadi keyakinan yang mendarah daging. Di masa depan mungkin definisi infertilitas pada pria yang berubah karena sperma sehat - yang berenang dengan cepat - kini sudah tidak digunakan.
